Oleh: suciwahdania | April 2, 2010

Nurcholish Madjid; Bapak Neo-Modernisasi Islam Indonesia

Tepat pada tanggal 29 Agustus 2005 pukul 14:05 WIB, Indonesia kehilangan tokoh yang sempat di digemborkan menjadi salah satu calon Capres Indonesia 2004. Dan akhirnya kita semua kehilangan satu pemain utama dalam tim yang selama hidupnya meracik formula jitu untuk menempatkan Islam pada posisi yang mudah diterima sehingga membuahkan ribuan gol untuk mengulangi masa keemasannya.

Ide Pembaruan ini kemudian dikenal sebagai Neo-Modernisme Islam Indonesia merupakan kombinasi dari dua unsur penting dalam peradaban Islam Indonesia, yaitu: Modernism dan Tradisonalisme. Kehadiran modernisme tidak mungkin dihindari. Tetapi, dengan mengakomodasikan ide-ide modernisme tersebut tidak berarti bahwa tradisionalisme harus dibuang. Neo-Modernisme jauh lebih siap untuk menerima ide-ide paling maju yang dikalangan modernis dan pada saat yang sama, juga bisa mengakomodasi pandangan kaum tradisionalis (salaf). Oleh karena itu, kebangkitan kaum Neo-Modernis dimaksudkan untuk menjembatani dua unsur peradaban Islam di Indonesia tersebut serta mengombinasikan kelebihan masing-masing.
Menurutnya, Sekulerisasi sebagai akibat yang wajar dari proses modernisasi dalam batas tertentu telah mengakibatkan berkurangnya peran secara tradisonal yang dimainkan oleh lembaga-lembaga keagamaan. Karena semangat keagamaan baru juga tumbuh sejalan dengan proses modernisasi dan sekularisasi akhirnya mendapatkan tempat didalamnya. Beliau menambahkan bahwa aspirasi keagamaan telah mendapatkan sarana baru untuk dikembangkan yaitu dengan modernisasi dimana pendekatan ilmiah dan empiris juga dapat digunakan untuk me-reinterpretasi pesan-pesan universal Islam bagi kemaslahatan sosial dan budaya Islam.
Meskipun jargon-jargon yang dikemukakan tersebut mengundang kontroversi, namun kesemuanya itu dimaksudkan untuk memberikan landasan teologis bagi umat Islam di Indonesia dalam mengatasi persoalan split personality ketika harus menentukan sikap antara menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas dan keharusan untuk menjadi Muslim yang taat. Mereka menyadari bahwa sebagai Muslim dan berbangsa Indonesia, mereka harus aktif ambil bagian dalam proses transformasi sosial. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika, walaupun secara sepihak pemikiran Anggota Dewan Pers Nasional 1990-1998 ini mendapatkan dukungan dari kalangan intelektual dan pengaruhnya pun juga semakin luas.
Nur Cholis dianggap kontroversi saat ia menyampaikan pidato keagamaannya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 21 Oktober 1992. Pidato dengan judul “Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”. Isi pidato Profesor tamu McGill University, Montreal, Canada 1991-1992 ini memang penuh sindiran dan kecaman yang keras terhadap bangkitnya bahaya fundamentaslisme di Indonesia. Ia menyamakan bahaya fundamentalis dengan bahaya narkotika.(baca 50 tokoh islam liberal Indonesia).
Rektor Universitas sekaligus ketua Yayasan Paramadina Mulya Jakarta periode 1998-2005 ini menformulasikan ide-idenya tentang Islam kultural sebagai agama yang berperan utama sebagai sumber nilai dan pedoman perilaku etika dan budaya dalam kehidupan berbangsa, sehingga Islam bisa menempatkan Islam seperti halnya permainan sepak bola atau bola itu sendiri yang mudah diterima oleh siapapun baik internal maupun eksternal. Dasar pemikiran seperti inilah yang menjiwai cara pandangnya dalam melihat Islam Indonesia yang kemudian menelurkan beberapa jargon seperti Islam “yes” partai Islam “no”, dan jargon Egalitarianisme dan Pluralisme yang mengusung gagasan Islam Pluralis dan Kehidupan Islam Modern Indonesia.Pada tahun 1969, beliau berkunjung ke Amerika selama lima pekan. Beberapa kritisi dan pengamat seperti Ahmad Wahib mengatakan bahwa kunjungan Cak Nur ke Amerika adalah perubahan 180 derajat. Cak Nur yang tadinya anti barat berubah menjadi pro Barat. Bahkan secara pribadi Cak Nur mengakui bahwa pengalaman tersebut meninggalkan bekas yang mendalam dan kesan yang tak terduga. Kesan yang mendalam terhadap Amerika inilah yang nampaknya membuat beliau sulit menolak ketika Fazlur Rahman dan Leonard Binder- keduanya guru Besar Chicago University – menawarinya proyek penelitian di Amerika tahun 1976. Langkah selanjutnya, Cak Nur kembali mendapatkan tawaran untuk melanjutkan Pasca Sarjana di Universitas Chicago (1978) sekaligus mengambil program doktor. Karena ketekunan dan kepiawaiannya, Cak Nur lulus ujian doktornya dengan disertasi berjudul “Ibn Taymiya on Kalam and Falsafa: A problem of reason and revelation in Islam “ (Ibnu Taimiyah dalam Ilmu Kalam dan Filsafat: Masalah akal dan wahyu dalam Islam).
Selanjutnya, Doktor dari Chicago University ini turut serta mempelopori gerakan sekulerisasi yang dikenal dengan ”Gerakan Pembaharuan Pemikiran Keagamaan” sejak tahun 1970. Tepatnya pada tanggal 3 Januari 1970 dalam acara Halal Bihalal di Jakarta yang dihadiri para aktivis penerus Masyumi yaitu HMI, PII, GPI dan Persami (Persatuan Sarjana Muslim Indonesia). Cak Nur dalam Pidatonya menyampaikan sebuah makalah yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran dan Masalah Intregrasi Umat.” Dalam makalah tersebut Cak Nur mengajak berpikir ke arah sekulerisasi dan liberalisasi pemikiran Islam. Beliau memperkenalkan ide sekulerisasi yang menurutnya berbeda dengan sekularisme. Sekulerisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum menjadi kaum sekularis. Tetapi yang dimaksudkan adalah untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrowikan-nya. Dengan demikian kesediaan mental untuk selalu menguji kembali kebenaran suatu nilai dihadapan kenyataan-kenyataan material, moral ataupun historis menjadi sifat kaum muslim.
Nama Nurcholis Madjid pertama kali muncul kepermukaan pada tahun 1960-an sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Cak Nur dianggap sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam organisasi kemahasiswaan ini. Sebagai tokoh aktifis mahasiswa terkemuka pada masanya, Beliau cukup berhasil membangkitkan idealisme kalangan muda ketika itu, termasuk sukses menanamkan benih-benih gerakan intelektual dalam jangka panjang. Gerakan ini diharapkan akan menjadi shock therapy bagi umat Islam Indonesia untuk mengubah kondisi mereka saat itu.
Dalam menempuh jenjang pendidikan pertamanya beliau mengambil dua instansi pendidikan sekaligus, yaitu Sekolah Rakyat (SR) dipagi hari dan Madrasah Ibtidaiyah di sore harinya. Sebelum menempuh pendidikan menengahnya di KMI (Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah) Pesantren Darusalam Gontor, Cak Nur menyempatkan dirinya mengenyam pendidikan di Pesantren Darul Ulum Jombang. Kemudian pada tahun 1960, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia ini menyelesaikan jenjang pendidikannya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab (Bachelor of Art/BA, Jurusan Sastra Arab) tahun 1965. Tidak berhenti sampai disitu, ia pun menyelesaikan program Doktorandus S-1 nya di Institute dan Fakultas serta jurusan yang sama pada tahun 1968 dengan judul skripsi Al-Quran Arabiyyun lughatan wa Alamiyyun Ma`an ( Al-Qur`an secara bahasa adalah Bahasa Arab, secara makna adalah Universal).
Nurcholis Madjid (alm), yang lebih akrab disapa dengan panggilan Cak Nur merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang terlahir dikota ini. Beliau lahir pada 17 Maret 1939 M bertepatan dengan 26 Muharam 1363 H. Cak Nur dibesarkan keluarga KH. Abdul Madjid yaitu keluarga pesantren terpandang di Mojoanyar, yang dikenal sebagai pendukung Masyumi pada masa itu.
Eropa. Ladang subur penghasil bintang-bintang pioner sepak bola dunia. Setidaknya lebih dari 10 negara anggotanya berlaga di ajang FIFA worldcup setiap 4 tahun, tak heran jika tropi piala dunia pun sering menginap dibenua ini. Begitu juga Jombang, kabupaten di pulau jawa bagian timur ini tidak kalah populernya dengan benua pencetak ratusan penggiring-penggiring bola tersebut. Sebagai kota santri atau kota seribu pesantren merupakan ladang penggembleng tokoh-tokoh besar Indonesia bahkan dunia. Tokoh-tokohnya tidak hanya bermain dilaga keagamaan saja, akan tetapi dilaga politik dan bisnis namun juga seni budaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: